Sumber:https://images.app.goo.
LATAR
BELANGKANG MASALAH
Kimia merupakan mata pelajaran yang
kurang diminati oleh siswa,alasanya kimia merupakan pelajaran yang sulit
dipahami,abstrak,mengandung matematika yang sulit dan menonton.Salah satunya
pokok pembahasan pada materi pelajaran kimia kelas X IPA adalah larutan
elektrolit dan non elektrolit. Materi ini mencangkup pengetahuan
konseptual,faktual ,prosedural dan membutuhkan analisis siswa .Kesulitan siswa
mempelajari larutan lektrolit disebabkan karena materinya yang dipelajari
bersifat mikroskopik sehingga tidak dapat dibayangkan oleh siswa.Terutama pada
konsep pengionan yang berbeda muatan dan dapat bergerak bebas,yang dimana pada
konsep ini lebih mengarah keabstrak .Untuk
mengatasi sifat yang abstrak tersebut, diperlukan multimedia pada pembelajaran
larutan elektrolit dan non elektrolit, sehingga membantu peserta didik lebih mudah memahami konsep-konsep yang
ditemukan berkaitan dengan materi
tersebut.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penyebaran angket menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam materi ini dikarnakan kurangnya pemahaman konsep dan terbilang membosankan.Menurut Arsad (2012) penggunaan multimedia dalam pembelajaran mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep abstrak dengan lebih mudah, selain itu juga dapat memberikan kesan positif kepada guru karena dapat membantu guru menjelaskan isi pelajaran kepada siswa penerapan.Untuk itu untuk menangani permasalahan diatas perlunya penerapan multimedia pembelajaran interaktif animasi yang melibatkan siswa aktif secara mandiri dalam proses belajar.Multimedia pembelajaran interaktif animasi secara sistematis dapat memberikan pembelajaran yang lebih bermakna sehingga siswa akan bertindak dan berfikir kreatif dalam memahami konsep pembelajaran.
Penelitian Relevan
Media pembelajaran merupakan dapat menjadi sarana penyampaian informasi
dari pengirim (guru) kepada penerima
(siswa), sehingga apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Hal ini
sejalan dengan pendapat Smaldino, Lowther & Russel, (2007: 6) bahwa Media
adalah sarana segala sesuatu yang membawa informasi antara suatu sumber dan
penerima. Sama halnya dengan pendapat Arsyad (2002:4) bahwa
media adalah segala bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk
mengkomunikasikan atau menyebarkan gagasan atau pendapat mereka kepada penerima yaitu siswanya.Media
pembelajaran dibuat agar siswa dapat memahami materi dalam waktu yang lebih
singkat dan lebih menyenangkan.
Hal ini sesuai dengan penelitian Attin,
Ibrahim dan Hadeli (2019:11) yang mengembangkan bahan ajar berbasis multimedia
interaktif pada materi pokok larutan penyangga Untuk Kelas XI IPA di SMA Negeri
3 Unggulan Palembang.Metode penelitian yang dipakai yaitu penelitian dan
pengembangan (R&D).Hasil penelitian menunjukan bahwa produk yang
dikembangkan memiliki kevalidan yang tinggi dan praktis berdasarkan validasi
para ahli materi,ahli pedagogik,ahli desain pembelajaran dan siswanya.Dengan keefektivitasan
yang tinggi,yang dibuktikan dari nilai pretest 30,3 dan
posttest 89,1 siswanya.
Kemudian penelitian
dari Nazalin dan Muhtadi (2016) yang berjudul pengembangan multimedia
interaktif pembelajaran kimi pada materi hidrokarbon untuk siswa kelas XI SMA. Metode penelitian yang dipakai yaitu penelitian dan
pengembangan (R&D).Pada penelitian menunjukan bahwa produk yang dihasilkan
terdiri apersepsi, kompetensi, materi, evaluasi, dan games.Dan produk yang
dikembangkan menunjukan hasil yang efektif untuk meningkatkan hasil
belajar.Produk multimedia dari penelitian ini diuji cobakan untuk dua sekolah,
XI IA1 SMA Negeri 1 Tomia dengan
pencapaian kompetensi minimal 87 % dan XI IA3 SMA Negeri 2 Tomia telah mencapai
kompetensi minimal.
Penelitian lainnya yang juga mengembangakan media pembelajaran interaktif
oleh Saselah,Amir M ,dan Qodar (2017) yang berjudul pengembangan multimedia interaktif berbasis adobe
flash cs6 professional pada pembelajaran kesetimbangan kimia.Pada hasil
produknya mendapatkan penilaian yang layak dan respon yang positif dari hasil validasi oleh ahli materi, ahli
media, reviewer serta hasil penilaian oleh siswa SMA.
Berdasarkan penelitian-penelitian diatas,peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran interaktif pada materi yang
berbeda yaitu larutan elektrolit dan non elektrolit berbasis adobe flash cs6
professional.
Kajian Teori
Teori Belajar
Pada
belajar dan pembelajaran harus berlandasan dengan teori pendidikan agar
memberikan layanan pendidikan yang baik.Terutama untuk layanana pendidikan
berbasis multimedia pembelajaran .Teori –teori belajar menjelaskan fondasi
keilmuan dari peserta didik .Teori
belajar menjadi titik acuan untuk mengembangkan pola pikir pembelajaran secara
sistematis,sehingga nantinya model atau produk yang dihasilkan diaplikasikan
secara optimal.Beberapa teori belajar yang menjadi titik acuan dalam dalam
landasan pembelajaran berbasis multimedia,diantaranya teori kognitivisme dan teori
konstruktivisme.
1
Teori
kognitivisme
Dasar dari teori
kognitivisme itu adalah rasional.Yang dimana pada aliran kognitivisme ini labih
mengarah ke proses belajar dari pada hasil belajarnya.Teori ini dalam kegiatan belajar tidak mengarah stimulus dan respon saja,tetapi juga melibatkan mental yang
ada dalam diri individu yang sedang belajar.Maka dari itu ,aliran kognitif
belajar merupakan sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai ,mengingat dan
menggunakan pengentahuan.(Baharudin dan Wahyu,2010).
Menurut
Budiningsih (2004) dalam Mudlofir dan Rusydiyah (2016) belajar berdasarkan
teori kognitif merupakan suatu proses yang mencangkup ingatan ,retensi
,pengelolahan informasi,informasi dan aspek kejiwaan,yang dimana belajar merupakan
aktivitas yang melibatkan pola berfikir yang sangat kompleks.Ilmu yang
berkembang dalam diri seseorang itu
melalui proses interkasi yang berkesinambungan dengan lingkungan.
Dalam proses pembelajaran
diperlukan peran siswa dalam proses kognitif agar pembelajaran lebih bermakna,tetapi
setiap siswa itu memiliki kapasitas kognitif yang terbatas,maka untuk mengatasi
itu guru harus menciptakan rekognisi memalui penggunaan multimedia.Setiap penggunaan
multimedia pembalajaran memiliki
sessitifitas terhadap beban proseskognitif siswa pada saat pembelajarn.Dari
situlah terjadinya interaksi anatara kognitif dangen multimedia yang lebih
dikenal dengan teori kognitif multimedia (Mayer dan Moreno,2010).
2
Teori
konstruktivisme
Menurut Jollife(
2001) dalam Rusman (2017) teori belajar konstruktivistik merupakan teori yang dipelopori
oleh Piaget,Bruner dan Vygotsky,yang mana pandangannya pada pemahaman tidaklah diperoleh secara
pasif tetapi pemahaman itu agar lebih akfif didapat dari pengalaman individu
dari hasil interaksi dengan lingkungan.
Alasan menggunakaan
kedua teori ini,karena keduanya memiliki
karakter yang searah dengan pengembangan multimedia dengan asumsi:
1.Dengan
adanya multimedia ,siswa dapat melakukan pembelajaran dengan sendiri,sehingga
pembelajaran itu dapat diulang-ulang.
2.Multimedia memiliki
sifat interaktif.
3.Dengan
adanya multimedia materi pembelajaran
dapat diaplikasikan dengan berbagai komponen.
4.Dengan
multimedia siswa mampu mengknstruksi ilmunya sendiri melalui proses pembelajaran


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAassalamualaikum wr wb
BalasHapusSaya lamia amelia RSA1C117006 ingin bertanya kenapa saudari widya mengambil teori tersebut, kenapa tidak yg lain? Dan apa keunggulan dari teori tersebut
Terimakasih
Baik terimakasih untuk saudara lamia,seperti saya paparkan diatas alasan saya memilih teori tersebut,karena keduanya memiliki karakter yang searah dengan pengembangan multimedia dengan asumsi:
BalasHapus1.Dengan adanya multimedia ,siswa dapat melakukan pembelajaran dengan sendiri,sehingga pembelajaran itu dapat diulang-ulang.
2.Multimedia memiliki sifat interaktif.
3.Dengan adanya multimedia materi pembelajaran dapat diaplikasikan dengan berbagai komponen.
4.Dengan multimedia siswa mampu mengknstruksi ilmunya sendiri melalui proses pembelajaran