LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
DISUSUN
OLEH :
WIDYA ARIA NINGSIH
(RRA1C117001)
DOSEN
PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2019
VII.
Data Pengamatan
|
PERLAKUAN
|
HASIL PENGAMATAN
|
|
Dimasukkan serbuk ke
250ml Erlenmeyer
|
Serbuk
berwarna putih kekuningan dalam kondisi kering
|
|
Direndam dengan 100
ml kloroform
|
Terdapat
selapis larutan kloroforn diatas permukaan serbuk simplisia rimpang kencur
kering
|
|
Dihangatkan pada
penangas air sambil digoyang-goyang
|
Bau khas
dari kencur bercampur dengan bau khas kloroform semakin kuat, warna larutan
semakin memekat dan keruh.
|
|
Dibiarkan selama
setengah jam pada suhu kamar kemudian saring
|
Larutan
kloroform berwarna kuning bening.
|
|
Dipisahkan residu
kencur dan sekali lagi perkolasi sekali lagi menggunakan pelarut dengan
jumlah yang sama
|
Larutan
kloroform bercampur ekstrak kencur terpisah dengan serbuk kasar dari rimpang
kencur, diperoleh larutan kuning bening.
|
|
Filtrat Diperoleh
kemudian digabung dan dipekatkan di bawah tekanan rendah (volume) hingga
volume kira-kira setengahnya
|
Volume
berkurang, warna larutan semakin memekat dan keruh.
|
|
Didinginkan
penyelesaian pekat dalam air, padatan yang terbentuk menyimpang dengan corong
Buchner, filtrat dipekatkan sekali lagi dan padatan yang kedua setelah
disaring digabung kemudian ditimbang
|
Diperoleh
Kristal berwarna kuning
|
|
Dihitung
rendemennya! Reksistalisasi dilakukan dalam klorofrom.kemudian menilai titik
lelehnya dan membandingkan dengan sastra (45-50ºC)
|
Diperoleh
titik leleh
|
VIII. Pembahasan
Untuk
percobaan kali inii kita menggunakan simplisia yang sesuai dengan judulnya
ialah kencur.Tahap awal yang kita lakukan yaitu tahap pencucian untuk memisahkan tanah dan zat-zat pengotor lain .selanjutnya kencur di potong-potong dengan tebal kira-kira 3 mm dengan tujuan untuk memperluas penampang ketika diangin-anginkan nanti, sehingga sampel dapat kering lebih cepat. Sampel kemudian
dikeringkan untuk selanjutnya di haluskan. Penghalusan bertujuan memperluas permukaan silisisa sehingga interaksi dengan pelarut dapat di
maksimalkan.
Kemudian dilanjutkan
dengan tahap preparasi sampel yaitu hingga kencur tersebut halus. Kami
lanjutkan dengan merendam simplisia rimpang
kencur yang sudah halus dengan menggunakan pelarut, pelarut yang di gunakan
adalah kloroform, metode ini biasa kita kenal dengan istilah Maserasi atau
ekstraksi dingin. Maserasi dilakukan selama 1x24 jam atau 1 malam 1 hari. Maserasi yang dilakukan
selama 24 jam ini bertujuan agar sel-sel pada rimpang kencur dapat aktif,
sehingga nanti akan diperoleh ekstrak dengan kandungan tinggi. Jika prosedur
langsung ke proses perkolasi maka kemungkinan akan ada sel yang tidak mengembang dan tidak mengeluarkan ekstrak yang
mengandung komponen etil p-metoksisinamat.
Selanjutnya
kami lakukan perkolasi dengan menggunakan
pelarut kloroform yang dipanaskan (tidak sampai melebihi titik leleh dari senyawa etil p-metoksisinamat yaitu 48-49OC). Temperature proses perkolasi harus dijaga agar tidak terlalu dingin juga, karena akan menyebabkan penyarian yang tidak maksimal. Volume pelarut yang
menetes juga dijaga hanya 2-4 tetes , kecepatan pelarut dalam melewati
simplisia ini juga menentukan hasil penyarian nantinya, karena akan jika
terlalu cepat maka pelarut hanya akan melewati sampel tanpa mengekstraksi
sampel tersebut dan berakibat penyarian yang tidak sempurna.Jika
kecepatan pengaliran pelarut terlalu lama akan membuang waktu saja.
Setelah ekstrak sekitar 90% pelarut menguap maka ekstrak sampel direndam
di dalam air es, tetapi karena begitu sedikit
yang menyebabkan susahnya penyaringan, maka kami melanjutkan penguapan sisa
pelarut tanpa pemanasan tetapi
diangin-anginkan di dalam suhu ruang.
Hasil yang
kami dapatkan adalah kristal
berwarna putih kekuningan dengan bau yang masih ibau
kencur.
.
IX. Pertanyaan Pasca Praktikum
1. . Pada tahap
penegeringan kencur itu dilakukan secara cepat atau mungkin langsung dioven
,apakah akan mempengaruhi hasil kristal juga?
2. Pada saat kita menguapkan ekstrak dengan bantuan pemanasan tidak boleh lebih
ataupun kurang dari titik leleh senyawa p-metoksisinamat yaitu harus pada suhu 48-49OC,itu mengapa?
Apa yang terjadi jika kita menguapkannya di atas atau di bawah suhu tersebut?
3.
Mengapa dilakukan penguapan dengan pelarut kloroform yang harus dipanaskan
terlebih dahulu ?
X. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan mengenai isolasi senyawa etil
p-metoksisinamat dari rimpang kencur (Kaemferiam galangal L), dapat di
tarik kesimpulan, yaitu:
1. Isolasi dari
senyawa bahan alam terkhususnya etil p-metoksi sinamat dilakukan mulai dari
determinasi, maserasi, perkolasi, kemudian selanjutnya evaporasi untuk
menhilangkan pelarut dan mendapatkan krstal kering.
XI.
Daftar Pustaka
Fessenden, R., & Fessenden, J., 1981, Kimia
Organik Jilid 1, Jakarta:
Erlangga
Firdaus, 2009, Teknik Laboratorium dan Penuntun Praktikum Kimia Organik., Makasar: Universitas Hasanuddin.
Tim Penuntun Kimia Organik 2, 2015, Penuntun
Kimia Organik 2, Jambi: Universitas Jambi.

2. Suhu pada p-metoksi sinamat ini harus di jaga, karena bisa mengakibatkan penyarian yang tidak maksimal
BalasHapus1. Tidak, karena jika kita menggunakan oven sama saja dengan kita mengerikan nya di bawha sinar matahari, malahan itu akan lebih mempermudah kita dalam melakukan percobaan di tahap pengeringan.
BalasHapus3. Agar ketika kloroftrom diupakan dalam hal itu dpat membantu semakin memekatkan larutan kencur untuk semakin lama semakin kuning dan membantu juga dalam mengasilkan hasil akhir yaitu kristal .
BalasHapus